Senin, 19 Juli 2010

Mengapa Mata Uang Indonesia Disebut Rupiah

Pernah kepikiran kenapa mata uang Indonesia harus Rupiah. Nah, kali ini mari kita bahas ulasan mengenai asal usul rupiah yang notabene menjadi nama mata uang Indonesia.

www.haxims.blogspot.com

Perkataan “rupiah” berasal dari perkataan “Rupee”, satuan mata uang India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda.

www.haxims.blogspot.com

Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu pendudukan Jepang sewaktu Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang rupiah jawa sebagai pengganti.

www.haxims.blogspot.com

Mata uang gulden NICA yang dibuat oleh Sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak kumpulan gerilya juga berlaku pada masa itu.

www.haxims.blogspot.com

www.haxims.blogspot.com

Sejak 2 November 1949, empat tahun setelah merdeka, Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang kebangsaannya yang baru. Kepulauan Riau dan Irian Barat memiliki variasi rupiah mereka sendiri tetapi penggunaan mereka dibubarkan pada tahun 1964 di Riau dan 1974 di Irian Barat.

Krisis ekonomi Asia tahun 1998 menyebabkan nilai rupiah jatuh sebanyak 35% dan membawa kejatuhan pemerintahan Soeharto.

www.haxims.blogspot.com

Rupiah merupakan mata uang yang boleh ditukar dengan bebas tetapi didagangkan dengan pinalti disebabkan kadar inflasi yang tinggi .

Satuan di bawah rupiah

Rupiah memiliki satuan di bawahnya. Pada masa awal kemerdekaan, rupiah disamakan nilainya dengan gulden Hindia Belanda, sehingga dipakai pula satuan-satuan yang lebih kecil yang berlaku di masa kolonial.

www.haxims.blogspot.com

Berikut adalah satuan-satuan yang pernah dipakai namun tidak lagi dipakai karena penurunan nilai rupiah menyebabkan satuan itu tidak bernilai penting.
  • Sen, seperseratus rupiah (ada koin pecahan satu dan lima sen)
  • Cepeng, hepeng, seperempat sen, dari feng, dipakai di kalangan Tionghoa peser, setengah sen.
  • Pincang, satu setengah sen.
  • Gobang atau benggol, dua setengah sen.
  • Ketip / kelip / stuiver (Bld.), lima sen (ada koin pecahannya).
  • Picis, sepuluh sen (ada koin pecahannya).
  • Tali, seperempat rupiah (25 sen, ada koin pecahan 25 dan 50 sen)
  • Terdapat pula satuan uang, yang nilainya adalah sepertiga tali.


Satuan di atas rupiah

Terdapat dua satuan di atas rupiah yang sekarang juga tidak dipakai lagi.
  • Ringgit, dua setengah rupiah (pernah ada koin pecahannya).
  • Kupang, setengah ringgit


Sumber :
haxims.blogspot.com

Selasa, 23 Maret 2010

Tata Cara Mandi Wajib Menurut Bimbingan Agama Islam Oleh Buya H. Masoed Abidin

1. Berniat dalam hati, tidak perlu dilafazkan. Contoh Niat, “Bismillâhi al-Rahmâni al-Rahîm, sengaja aku mandi wajib (membersihkan hadas dan najis) karena Allâh subhânahu wata`âlâ.

2. Membasuh Seluruh Anggota Badan. Pada saat membasuh anggota badan, ada beberapa hal yang disunatkan:

a. Mulailah dengan mencuci kedua tangan tiga kali.

b. Kemudian membasuh kemaluan.

c. Lalu berwudhu’ secara sempurna, seperti halnya wudhu’ untuk shalat. Mulai dari sebelah kanan.

d. Kemudian menuangkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali sambil menyelang-menyelangi rambut agar air sampai membasahi urat-uratnya. (ini khusus membasahi kepala saja atau sama dengan seseorang membersihkan rambutnya pakai shampo).

e. Lalu mengalirkan air keseluruh badan dengan memulai sebelah kanan lalu sebelah kiri tanpa mengabaikan kedua ketiak, bagian dalam telinga, pusar dan jari-jari kaki serta menggosok anggota tubuh yang dapat digosok. Mengalirkan air sedikitnya tiga kali. Selesai.

f. Khusus untuk perempuan yang berambut panjang tidak diwajibkan menguraikan rambutnya seperti laki-laki. Sabda Rasul Allâh SAW, “Bahwa seseorang perempuan bertanya kepada Rasul Allâh SAW: “Jalinan rambutku amat ketat, haruskah diuraikan jika hendak mandi janabah? ”Rasul Allâh SAW menjawab: “Cukuplah bila engkau menuangkan ke atasnya air tiga kali, kemudian engkau timbakan ke seluruh tubuhmu. Dengan demikian engkau telah suci.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidziy).

Semua aturan ini berdasarkan pemahaman prinsip-prinsip ajaran Islam, yang mengandung hikmah dan kebaikan untuk semua manusia, terutama sekali bagi umat islam, untuk menjaga kepuasan bagi sesama pasangan berdasarkan tujuan awal dari pernikahan yaitu ibadah kepada Allâh, serta untuk menjaga kelestarian keturunan, disamping suatu wadah penyaluran hasrat sex yang dimiliki manusia kepada lawan jenis secara sehat dan bermartabat lagi terhormat. Maka bertakwalah kepada Allâh dan ta`atlah.

Ketahuilah, pada hakekatnya maksud dari syari`at adalah mentaati Allâh secara mutlak, karena manusia hanya dapat mengkaji, memahami dan mengamalkannya berdasarkan kemampuan intelektual yang dianugerahkan-Nya.

Dalam berbagai literatur ditemukan banyak fatwa-fatwa ulama tentang perempuan, berkisar antara profesi dan status perempuan sebagai mitra laki-laki dalam urusan mu`amalah, namun dalam masalah ibadah, perempuan mendapat tempat tersendiri. Contoh, perempuan yang haid tidak diwajibkan melakukan shalat, sampai ia suci, dari haid atau bahkan dalam keadaan nifas juga termasuk dalam kategori ini. Contoh lain, seorang isteri yang ingin berpuasa sunat dalam keadaan yang sama ia harus menuhi hasrat seksual suaminya, pada saat itu, bagi sang isteri tidak ada pilihan lain, hanya memenuhi hasrat suaminya, dengan ikhlas, akan menjadi ibadah baginya, melebihi puasanya yang akan dilakukan.

Lelaki (suami) yang bertaqwa, tentulah tidak meminta istrinya membatalkan puasa, hanya karena ingin memenuhi hajat libidonya. Hamba yang mukmin dan muttaqin, tentulah mampu mengendalikan hasratnya.

Demikian Islam menghormati kaum laki-laki dan menghargai perempuan dengan pahala yang seharusnya berada dalam keinginan yang tidak terbayangkan. Dan banyak lagi peluang-peluang terhormat lainnya terkadang diabaikan atau bahkan meremehkannya. Nabi Muhammad SAW pernah mengisyaratkan, “kalaulah tidak dilarang makhluk menyembah makhluk, maka akan aku perintahkan isteri menyembah pada suaminya.”

Begitu berharganya penghormatan yang diberikan kepda sang suami. Konsekwensi dari penghormatan terhadap suami (lelaki) ini, maka seorang suami bertanggungjawab terhadap perlindungan dan kasih sayang tercurah dengan tulus kepada istrinya.

Di mata sang isteri hanya suaminya menjadi sanjungan, setelah kecintaan kepada Allâh dan Rasul.

Maklumilah, bahwa Allah pula yang mewasiatkan kepada setiap manusia agar menghormati dan berterima kasih kepada kedua orang tua (ayah dan bunda).

Di sini terletak pokok akhlak mulia itu.

Jumat, 22 Januari 2010

Saran Aman Ber-ATM dari Mantan Pembobol Rekening

Jakarta - Skimming yang menelan korban nasabah bank di Indonesia dan juga negara-negara lain di dunia tidak menggunakan teknologi canggih. Dengan alat dan trik yang sederhana, pencuri dengan mudah menyedot aset nasabah.

Kesederhanaan modus ini diungkap oleh Dan DeFelippi, mantan pencuri identitas nasabah kartu debet dan kartu kredit. Kini DeFelippe "telah insyaf" setelah ditangkap polisi AS tahun 2003 lalu dan kini bekerja sama dengan aparat hukum guna membongkar jaringan jahat di internet.

DeFelippe menyatakan, untuk mencuri identitas pemilik kartu kredit, dia cukup membeli nomor kartu kredit. "Anda dapat memberi nomor kartu kredit seharga satu dolar, dua dolar atau tiga dolar," katanya seperti dilansir www.13wham.com di Rochester, New York.

Website 'bawah tanah' juga menyediakan trik jahat ini. "Orang-orang secara aktif menulis informasi dan secara aktif menulis tutorial. Anda bisa mendapatkan daftar itu dengan mudah," ujarnya.

DeFelippi menyatakan, orang-orang sering bingung di depan mesin ATM dan pencuri tahu itu lalu memerasnya. "Bila Anda dapat memasang steker kamera di komputer dan steker sebuah VCR ke TV, Anda bisa melakukan skimming di ATM. Itu (Skimming) sesederhana itu. Anda bisa memberi piranti keras, yang harus Anda lakukan semua hanyalah mengkoneksikannya," ujarnya.

Inilah tips aman dari DeFelippe:

1. Salah satu ciri sebuah alat skimmer telah ditempelkan adalah bila Anda tidak melihat cahaya berpendar LED ketika Anda memasukkan kartu ke mesin ATM. Bisa jadi lampu LED tidak terlihat berpendar karena tertutupi oleh skimmer.

2. Waspadai kotak brosur yang mungkin menempel/di dekat ATM karena kotak brosur itu bisa jadi berguna untuk menutupi kamera tersembunyi untuk merekam gerakan jemari Anda menekan nomor PIN.

3. Biasakanlah menggunakan mesin ATM yang terdekat dengan kediaman/kantor Anda sehingga Anda familiar bagaimana mengoperasikannya dan mengetahui dengan cepat bila ada kejanggalan.

4. ATM drive-through adalah target bagus untuk pencuri identitas karena pengemudi seringkali merasa terburu-buru dengan pengantre lainnya sehingga tidak memberi perhatian lebih.

5. ATM teraman adalah yang berada di dalam bank atau toko yang ramai orang-orang.
6. Waspadalah bila ATM mengaku "rusak/out of order" sehingga uang tak bisa keluar, padahal Anda telah memasukkan kartu dan telah memasukkan PIN.

Di Indonesia, sejumlah bank telah mengumumkan kerugiannya akibat aksi skimmer. Rinciannya:
* BCA: 200 nasabah dibobol dengan kerugian sekitar Rp 5 miliar
* BNI: 19 nasabah dengan kerugian sekitar Rp 200 juta
* BRI: 3 nasabah dengan kerugian sekitar Rp 48,5 juta.

Belajar Mendengarkan Peringatan "Hacker"

KOMPAS.com - Sekitar dua tahun lalu, seorang hacker atau peretas berkunjung ke Kompas. Dia berapi-api menceritakan perkembangan dunia retas-meretas (hacking) di Indonesia. Salah satu yang sedang aktual adalah retas-meretas smart card, termasuk kartu ATM.

Hacker itu menjelaskan, keamanan kartu ATM sangat lemah. Kartu ATM berpita magnetis itu mudah digandakan dengan mesin pengganda atau istilahnya ATM skimmer.

Bentuk ATM skimmer bermacam-macam, umumnya bentuk alatnya sama dengan yang digunakan pada pembayaran di merchant atau toko. Jika merchant curang, dia menggesek kartu ATM Anda untuk transaksi, juga menyalin data.

Persoalan makin genting karena mesin itu dijual bebas di internet. Cukup berbekal pengetahuan ala kadarnya soal smart card hacking, perengah atau cracker bisa menjalankan bisnis haram penggandaan kartu. Kartu berpita magnetis itu mudah didapatkan dengan harga murah. Harga satu kartu tak lebih mahal daripada sebatang rokok.

Hacker itu juga membuktikan bagaimana menggandakannya. Ia menunjukkan kartu warna putih berpita magnetis, mirip kartu ATM, tanpa gambar.

”Saya menyalin kartu ATM asli saya ke kartu ini. Kartu baru ini bisa berfungsi sebagai kartu ATM,” katanya. Untuk menghindari anggapan penyalahgunaan, si hacker menekankan, kartu itu hanya untuk demo atau cadangan jika kartu asli hilang.

”Saya mengundang perbankan untuk membahas isu hacking ATM. Saya presentasikan ancaman smart card hacking,” katanya. Namun, tak ada respons bagus dari pihak bank.

Di Indonesia, gerak hacker tak dianggap. Praktik umum menjajal celah keamanan dianggap tindakan kriminal. Itu sebabnya peringatan soal celah keamanan pada sistem, terutama perbankan, tak diterima.

Hacking berbeda dengan cracking (rengah-merengah). Cracking bertujuan kriminal. Hacking, upaya ahli komputer memastikan keamanan sistem.

Awal tahun 2008 di mailing list beredar keluhan pembobolan uang dari rekening bank. Di internet, arsip keluhan mereka yang kehilangan duit mudah ditemukan. Seharusnya perbankan tak mengabaikan keluhan ini.

Sejak tahun 2005 hacker dan cracker tertarik hacking di luar situs web, termasuk smart card hacking. Hanya dengan mesin berkemampuan membaca dan menulis di kartu pintar, kartu kredit atau ATM bisa diduplikasi ke kartu kosong. Ini teknologi lama. Beda antara dunia hitam dan putih dalam konteks ini memang tipis.

Beredar pula program berbasis virus. Perangkat ini diklaim bisa membuat sistem pertahanan ATM tumbang. Salah satunya yang beredar adalah ATM BackDoor.

Bahkan, ada tutorial upaya membongkar sistem keamanan kartu berbasis cip. Hacker membahas persoalan ini secara terbuka. Sayang, peringatan semacam ini belum menjadi model untuk memverifikasi sistem keamanan.

Demi menjaga keamanan, selain memberantas aksi cracker jahat, sudah saatnya kita mau mendengar suara hacker. (Amir Sodikin)

Jumat, 15 Januari 2010

Belajar Bikin Aplikasi BlackBerry di Gunadarma

Seperti kami lansir beritanya beberapa waktu lalu, ilmu membuat aplikasi BlackBerry bisa segera dipelajari di Indonesia. Berupaya menyiapkan sarjana yang bisa diterima di industri atau dunia kerja, Universitas Gunadarma menggelar seminar Uni-Industry Collaboration bertajuk Mobile Devices in Computing Education, di Depok, kemarin (13/1).

Seminar sehari ini mendatangkan pembicara tamu dari University of Guelph, Kanada, Assoc. Prof. Dr. Qusay H. Mahmoud. Direktur sekaligus pendiri Centre for Mobile Education and Research (CMER) ini mencoba 'ngomporin' para mahasiswa agar tak sekadar jadi penikmat perangkat mobile seperti BlackBerry. “Mengapa tidak membuat sesuatu untuk dimanfaatkan di perangkat mobile?” ajak Dr. Qusay.

Membuat aplikasi untuk perangkat mobile, tutur pria yang disapa Dr. Q ini, sangat menantang. Bukan hanya jenis perangkatnya saja yang heterogen, platform yang berjalan di atasnya pun tidak hanya satu dua macam. Namun dari sisi bisnis pun tak kalah menariknya, karena pasar pengguna mobile device ini sangat besar di Indonesia tapi belum tergarap penuh.

Tak heran jika Universitas Gunadarma akan segera menyisipkan modul-modul yang dibuat CMER ke dalam mata kuliah mobile programming. Menurut I Made Wiryana (International Collaboration Coordinator, Gunadarma), mereka yang akan mendapat mata kuliah ini adalah mahasiswa jurusan Elektro, Teknik Informatika, Sistem Komputer, dan Sistem Informasi. “Sekitar 3 bulan lagi program ini sudah bisa jalan,” imbuh Made.

Judulnya juga Uni-Industry Collaboration, untuk mendekatkan kampus dan industri, kalangan industri untuk mobile platform pun tak ketinggalan hadir. Taufik Hidayat dari Adelva Solusindo, misalnya, memaparkan bagaimana situs 21cineplex.com yang digarapnya berkembang. Awalnya hanya sebagai pemberi identitas saja, kini situs jaringan bioskop terbesar di Indonesia itu mendapat kunjungan unique visitor sekitar 1,2 juta per bulan. Sementara unique visitor untuk mobile web-nya mencapai 400 ribu per bulan.

Andre Raditya (Chief Commercial Officer, Better-B) memaparkan berbagai hasil survai mengenai pengguna BlackBerry dan situasi pasarnya yang menjanjikan. Seberapa menjanjikan? Indonesia mempunyai pertumbuhan pengguna BB tercepat di dunia, kata Andre. “Pertumbuhannya 800 persen antara 2007 sampai 2008,” jelasnya.

Memang sudah saatnya para pemilik ilmu di bidang komputer dan yang lain memanfaatkan situasi pasar yang sedang gandrung akan smartphone, seperti BlackBerry dan iPhone. Silakan belajar dulu di Gunadarma.

Kamis, 04 Juni 2009

Perkembangan Pemikiran Keagamaan Berdasarkan Usia Agama

Setiap Agama besar di dunia mempunyai sejarahnya masing-masing. Terkadang karena jumlah umat yang begitu besar dan mempunyai kekuatan yang amat besar pula terhadap perubahan pada zamannya, agama bukan hanya bagian dari sejarah tapi ikut mewarnai sejarah itu sendiri. Dari masa sejak suatu agama lahir, secara alamiah mereka akan berkembang pula. Perkembangan ini tidak terjadi pada ranah tatanan baku aturan nilai yang dibawa oleh agama, tapi lebih pada interprestasi dan aplikasi dari manusia yang menganut nilai-nilai dasar dalam agama tersebut.

Sebagai suatu proses yang alamiah, perkembangan agama berjalan segaris dengan usianya. Selain itu, perubahan karakteristik dari sebuah agama juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, perkembangan zaman, serta kualitas dari para pemuka-pemuka agama yang mempunyai fungsi sebagai pengendali arah jalannya hidup beragama. Bila kita mencermati sejarah dari agama-agama besar di dunia, dapat kita tarik benang merah adanya kesamaan proses dan karateristik dalam tahap-tahap usia tertentu. Tahap-tahap itu antara lain :

1. 0 – 60 tahun : Masa Kelahiran.

Agama ada fase ini sedang dalam proses kelahirannya. Lahirnya sebuah agama diawali dari para orang-orang terpilih yang mempunyai karunia tersendiri untuk bisa merumuskan risalah tentang cara hidup batin yang tepat, agar hidup ini bisa selaras dengan seluruh isi semesta maupun penciptaNya.

2. 60 – 200 tahun : Masa Perjuangan

Setiap pendiri agama selalu mempunyai orang-orang khusus yang menerima ajaran tersebut untuk pertama kali. Orang-orang ini adalah kelompok yang sering kita kenal sebagai, para sahabat, para murid, para rasul, dll. Kelompok inilah yang memulai perjuangan agar ajaran-ajaran agama dapat disebarluaskan ke berbagai pelosok dunia. Dalam fase ini, perjuangan dimulai dengan menyusun konsep-konsep hidup batin yang mulanya disajikan secara lisan menjadi risalah-risalah literal yang terangkum dalam sebuah Kitab Suci. Penyebarab nilai dan tatanan baru ke tengah masyarakat, tentu menimbulkan banyak pro dan kontra. Penolakan tidak hanya sebatas pada tataran pertentangan ide semata, tetapi buah penolakan dari sebuah ajaran baru bisa mengakibatkan para jemaat pertama mengalami pembunuhan, teror, pengejaran, terpenjara, disiksa, bahkan terlibat dalam berbagai peperangan. Perjuangan para anggota jemaat pertama tidaklah sia-sia. Walaupun berbagai rintangan hadir, mereka berhasil menarik lebih banyak orang untuk mengikuti ajaran dari agama yang mereka wartakan. Pada fase ini jumlah pengikut agama mengalami peningkatan yang sangat drastis.

3. 200 – 500 tahun : Masa Keemasan Pertama

Kegigihan para Jemaat pertama memang luar biasa. Kedekatan mereka dengan Sang Pembawa Sabda membangkitkan semangat luar biasa yang pantang menyerah. Buah dari kerja keras ini adalah perkembangan agama yang begitu pesat. Perkembangan ini berawal ketika agama sudah mulai diterima oleh para penguasa negara, secara suka rela maupun paksaan. Pada fase ini agama yang awalnya disebarkan secara sporadis kini mendapat bantuan dari para penguasa. Dari segala sisi kehidupan mengalami perkembangan pula. Agama mulai mempengaruhi berbagai sisi dalam kehidupan manusia dengan memunculkan ciri-ciri khususnya. Seni lukis, arsitektur, sastra, musik, ilmu pengetahuan, yang semuanya sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar religiositas muncul dan berkembang sebagai sebuah produk budaya yang premium. Produk – produk budaya pada zaman keemasan agama-agama besar di dunia tersebut, bisa kita nikmati sampai sekarang dan terus menerus menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya.

4. 500 – 1000 tahun : Masa Keserakahan

Kedekatan para pemuka agama dengan pemegang kekuasaan mulai mengarah ke keserakahan. Keadaan ini semakin parah ketika pemuka agama merangkap juga sebagai pemegang kekuasaan. Umat beragama waktu mempunyai pikiran yang sangat sempit. Mereka menganggap pemuka agama dan penguasa adalah pengejawantahan Tuhan di bumi. Dalam pandangan umat bahwa kata mereka adalah sabda, perintah mereka selalu benar, tindakan mereka selalu mulia, dan melawan mereka adalah dosa. Keadaan ini disadari sepenuhnya oleh koalisi antara pemuka agama dan penguasa. Ketundukan rakyat adalah alat yang sangat ampuh untuk menekan dan memeras mereka demi keuntungan pribadi kaum – kaum petinggi tersebut. Ancaman kekerasan oleh penguasa dan doktrinisasi oleh pemuka agama membuat rakyat dalam posisi terjepit. Melawan penguasa dalam bentuk apapun pasti berakhir dengan hukuman mati, dengan dua tuduhan pasti pula, yaitu dianggap bid’ah atau berkhianat. Belum puas memeras kerajaannya sendiri, atas dasar agama mereka melakukan penaklukan ke kerajan-kerajan lain supaya semakin kaya. Perburuan terhadap relic-relic keagaman pada masa ini marak terjadi. Relic-relic digunakan sebagai pemerkuat legitimasi kekuasaan para elit negara.

5. 1000 – 1500 tahun : Masa Suram

Pada fase ini agama kehilangan identitas aslinya. Agama yang diharapkan sebagai penuntut manusia menuju ke arah kehidupan yang lebih beradab seakan kehilangan fungsinya. Ajaran agama ditafsirkan secara sepihak demi keuntungan kelompok elit dan demi mengalahkan kelompok yang menjadi musuhnya. Tafsir atas ajaran agama yang dikuasai oleh segelitir petinggi agama terlanjur merasuk ke benak umat kebanyakan. Ketika kekuatan penguasa mulai melemah dalam upayanya memperluas kekuasaan atas nama agama, maka tafsir yang salah ini terwariskan ke umatnya. pengsakralan yang dogmatis terhadap pemimpin agama dan kerasnya doktrinasi yang diterima umat pada masa sebelumnya, membuat umat takut untuk mengartikan ulang makna ajaran agama yang mereka jalani. Pada masa sebelumnya agama rusak ditangan para petingginya, pada masa ini agama semakin rusak karena kesalahan para pendahulunya terus dijalankan dan diajaran secara turun temurun ketengah umat.

Ada dua kelompok pemikiran dalam fase ini. Kelompok yang hidup dengan pemikiran agama yang sempit dan kelompok lain yang lebih kecil, yaitu kelompok yang mulai kritis dalam memandang ajaran agama sendiri. Segelitir umat yang mulai sadar akan kemunduran dari nilai dan fungsi agama justru dianggap sebagai kelompok yang sesat oleh kaum fundamentalis. Tujuan dari dua kelompok tersebut bisa dibilang sama. Keduanya ingin kembali ke masa keemasan agamanya. Kelompok umat yang kritis berpandangan bahwa untuk mengembalikan ajaran agama sesuai fungsinya, maka harus diadakan reinterprestasi ajaran sesuai konteks zaman dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran yang hakiki. Sedangkan kelompok fundamentalis menganggap bahwa masa keemasan bisa kembali tercapai bila umat terhindar dari penyelewengan nilai dalam ajaran agama. Nilai ajaran agama yang mereka maksud adalah ajaran dalam pandangan dan praktek yang serba tekstual. Pemahaman agama secara tekstual merupakan proyek pembodohan dari petinggi agama. Umat dikondisikan untuk menjalankan agama secara tekstual sehingga pengetahuan mereka terbatas. Keterbatasan ini akan membuat umat selalu tergantung kepada para petinggi agama.

Salah satu keuntungan lain dari proyek pembodohan ini adalah, ketika umat selalu ditakuti dengan memberikan lebel yang begitu sakral pada teks agama, para elit agama jadi lebih mudah dalam mengkontrol atau menyetir pemikiran umat. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan umat beragama. Karena nilai ajaran agama manapun yang dijalankan secara tekstual, akan berbenturan keras dengan ajaran agama lain, dengan keragaman budaya, dengan pemikiran - pemikiran maju, dengan HAM, dengan nilai dasar kemanusiaan, dengan perkembangan zaman dan dengan nilai-nilai beradaban. Benturan-benturan ini tak jarang menimbulkan konflik yang mengarah ke tindak kekerasan bahkan peperangan. Agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian, tampil dengan wajah seram yang seakan-akan selalu haus darah. Agama dalam fase ini hadir sebagai antitesis dari kemajuan peradaban manusia. Kalau agama terlalu lama terjabak dalam fase gelapnya, agama yang tadinya (katanya) mulia, bisa berubah menjadi racun yang mencemari peradaban manusia. Agama yang terlalu nyaman berada dalam fase gelapnya, bahkan ada gerakan yang sistematis untuk mempertahankan fase tersebut, maka ia menuju kehancurannya sendiri.

6. 1500 – 2000 tahun : Masa Reformasi.

Reformasi adalah sebuah kelahiran kedua. Agama lahir kembali dengan langkah pemurnian nilai-nilai ajaran dari pengaruh kekuasaan, politik, materi dan ego sekelompok umatnya. Dalam fase ini agama dikembalikan ke akar fungsionalnya sebagai tatanan kehidupan manusia yang lebih indah, baik dan beradab. Untuk ke-efektifannya, reformasi ini harus lahir dari para petinggi agama. Bila gerakan perubahan tersebut hanya muncul dari segelintir umat tanpa dibarengi kesadaran dari para pemuka agama, maka gerakan tersebut akan sia-sia belaka. Hanya akan dipandang sebagai sebuah gerakan pemberontakan semata. Inti dari gerakan reformasi ini adalah menempatkan kepentingan umat manusia secara umum di atas kepentingan kelompok agama itu sendiri. Hal-hal teknis dalam ajaran agama yang kiranya dapat menghalangi peran agama dalam memperindah kehidupan manusia harus diberi pemaknaan ulang.

Agama harus menyadari bahwa ia hadir di dunia dengan ragam manusia yang sangat majemuk. Pagar-pagar tinggi yang sengaja diciptakan pada masa yang lalu untuk kepentingan ekslusifitas agama dan para pemukanya harus dirubuhkan. Agama tampil dengan lebih ramah, dengan meminimalisir sekat–sekat yang dapat menghalangi penyebaran nilai-nilai mulianya ke tengah umat manusia. Satu hal yang harus ditempuh agar hal itu dapat dilakukan adalah dengan tafsir ulang ajaran agama. Ajaran agama tidak lagi terpaku pada hal-hal yang tekstual, tapi lebih pada pemaknaan secara kontekstual sesuai dengan manusia, kebudayaan dan zaman yang sedang dihadapinya.

7. Lebih dari 2000 tahun – Fase Peleburan.

Akibat dari keberhasilan pada fase sebelumnya, agama kini hadir dengan lebih universal. Ajaran-ajarannya tidak lagi berbenturan dengan kemajemukan manusia. Pada fase ini, inti ajaran mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari atribut keagamaan. Nilai-nilai dasar agama tidak hanya merasuk dalam umat yang mengimaninya tetapi juga dapat diresapi oleh umat manusia secara umum. Bahkan kelompok orang yang menentang atau memusuhi suatu agama, dapat secara tidak sadar tetap menerima dan menjalankan ajaran dari agama yang ditentangnya. Ajaran agama menjadi milik umum dan bisa diamalkan tanpa harus ikut dalam keanggotaan dari suatu kelompok agama tertentu. Sebagai contoh, yoga, meditasi, kundalini, terapi holistic, dulunya adalah praktek agama, sekarang hal tersebut menjadi sesuatu yang umum sebagai bagian dari upaya kesehatan dan gaya hidup.

Menyadari dengan hati nurani yang bersih serta pemikiran logika yang waras tentang keadaan dari agama yang kita anut, membantu perkembangan pemikiran keagamaan untuk menuju ke tingkat yang lebih baik. Rasa terlena karena menganggap ajaran agama sendiri adalah mutlak yang paling benar merupakan hal yang sangat berbahaya. Hal ini membutakan kemampuan kita untuk berintrospeksi dan melaukan perbaikan-perbaikan. Reformasi terhadap tafsir yang menuju ke arah yang lebih kontekstual tak akan melemahkan nilai-nilai dasar agama. Gerakan ini justru akan membawa agama sebagai sebuah tatanan yang lebih manusiawi dan beradab. Agama sebagai sumber konflik adalah buah dari kegagalan menempatkan ajaran agama secara kontekstual. Jika agama yang anda anut lebih banyak menimbulkan peperangan, kematian, bencana, perselisihan, tindak kekerasan, kemunduran budaya dan bukannya menciptakan kasih, ketenangan serta kedamaian, anda harus segera bertindak untuk lepas dari fase kegelapan tersebut. Sebelum agama anda dinilai sebagai racun dunia dan akhirnya musnah ditelan masa.

Rabu, 18 Februari 2009

4 Skenario

Skenario 1

Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong
tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk
menggoyang-goyangka n kaki.
Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.

Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya
kepada kita.
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,"
kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.


Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung
memberikannya kepada kita.
Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari
handphone kita hilang.

Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone
kita sambil berkata,
"Pak, handphone bapak barusan jatuh nih."
Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa
terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang
yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).
Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita
menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun
dari kereta.
Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap
ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia
mengembalikannya kepada kita.

Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak
memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.
"Halo, selamat siang, Pak.
Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang," kita mencoba
bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan
handphone itu kembali kepada kita.
Orang yang menemukan handphone kita berkata,
"Oh, ini handphone bapak ya.
Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
Biar bapak ambil di sana nanti ya."

Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun
berikut dan menemui "orang baik" tersebut.
Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya
akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua
bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada
orang yang menemukan handphone kita tersebut.


Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun
dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita
mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
"Bapak / Ibu yang budiman.
Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat
mengembalikan handphone itu kepada saya.
Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. "
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
Kita sudah putus asa.

Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam
handphone kita.
Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.
Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone
kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan
handphone tersebut.

Bagaimana kira-kira perasaan kita?
Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang
diberikan oleh orang itu.
Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?

Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan
mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih
berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario
ketiga).


Moral of the story

Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?

Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan
ada orang yang menemukannya.


Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih.

Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita
turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.

Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun
dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.

Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah
itu baru mengembalikannya kepada kita.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini.
Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling
baik?
Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,
bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.

Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara
empat orang di atas.



Manakah orang yang paling tidak baik?
Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita
menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita
tersebut selama itu.

Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling
besar.



Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus,
tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan
banyak, kita berikan lebih sedikit.

OK, kenapa bisa begitu?

Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
skenario.


Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum
sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.

Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat
itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang
mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari
kereta.

Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama
kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone
kita kembali.

Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.

Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang
yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada
kita.

Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai
handphone yang kita miliki.

Kesimpulan

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?

Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,
kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.

Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
kita.
Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.

Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah
hilang tersebut.

Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat
bersyukur?

Sebaiknya tidak.

Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu
masih ada.
Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah
lenyap dari diri kita.

Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.

Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

God bless you all.


Comment from me..
Terlebih lagi kehilangan seseorang yg dikasihi & mengasihi kita untuk seumur hidup/selamanya. .. Spt ada kata2 di film Korea bilang, adalah orang yang paling malang di dunia...

ShoutMix chat widget